HomeTulisanJEMPUT BOLA INVESTASI SKANDINAVIA

JEMPUT BOLA INVESTASI SKANDINAVIA

Tempo, edisi 12 Januari 2019

Todung Mulya Lubis, Duta Besar Indonesia untuk Norweygia dan Islandia

Beberapa waktu  lalu, para  bankir  Indonesia singgah di kantor kedutaan di Oslo dan kami berbincang cukup lama. Saya katakan  kepada  mereka bahwa kita dihadapkan pada defisit neraca perdagangan lndonesia-Norwegia. Ekspor Indonesia ke Norwegia tidak banyak hanya kopi, tekstil, alas kaki, ban, furnitur, dan beberapa lagi jumlahnya tidak besar jika dibandingkan dengan impor kita dari Norwegia, yang lumayan bervariasi, yakni seafood (terutama salmon, rout, dan makerel,alat derek, pupuk, tanker, teknologi militer,serta berbagai produk berteknologi tinggi, yang harganya pasti lebih mahal ketimbang kopi, alas kaki, atau furnitur.

Sebetulnya  ada kelapa sawit yang masuk pasar Norwegia. Tapi kelapa sawit dan turunannya masuk melalui negara lain dalam  bentuk  consumer good. Maka, meski jumlahnya  signifikan, dari sisi neraca perdagangan tidak dihitung karena ekspornya tak masuk langsung ke Norwegia. Jadi Norwegia bukanlah destinasi ekspor kelapa sawit.

Presiden Joko Widodo menghendaki semua  kedutaan  meningkatkan ekspor produk-produk Indonesia karena kita membutuhkan  banyak  devisa  untuk membiayai akselerasi pembangunan. Khusus Norwegia dan Skandinavia pada umumnya, peningkatan ekspor itu tidak mudah dicapai. Pasar Norwegia atau pasar Skandinavia relatif kecil, disamping jaraknya yang sangat jauh, sehingga eksportir Indonesia lebih melirik pasar besar, seperti  Cina, Korea Selatan, Jepang,India, dan Australia.

Penduduk  Norwegia hanya 5,5 juta, Swedia 9,9 juta, Denmark 5,7juta, dan Finlandia 5,7 juta. Satu negara lain, lslandia berpenduduk tidak sampai 400 ribu orang. Bayangkan, dari semua  penduduk yang ada di Skandinavia, berapa banyak yang  bisa menjadi  konsumen potensial? jumlah  konsumen di sini tak signifikan  jika dibandingkan dengan  jumlah  konsumen yang berada di Cina dan India.

Tapi rendahnya ekspor Indonesia ke Norwegla dan Skandinavia bukanlah akhir dari segalanya. Kita bisa mengupayakan  lebih banyak investasi masuk ke Indonesia. Kalau kita lihat Norwegia, pendapatan per kapitanya sekitar US$ 63.530, sedangkan Swedia US$ 50.840, Demarmark US$51.560, dan Finlandia US$ 45.730. Negara kecil lslandia, yang juga bagian dari Skandinavia, punya pendapatan per kapita sekitar US$ 53.640.Betapa makmurnya orang-orang di kawasan Skandinavia  ini! Sementara itu, produk  domestik bruro  Norwegia US$ 398,8 miliar (2017). Angka lni lebih  besar daripada proyeksi pendapatan negara kita pada 2019,Rp 2.142,5 triliun.

Angka-angka itu menunjukkan kepada  kita semua potensi ekonomi dan potensi investasi yang bisa digarap kalau kita serius dalam mencari investasl untuk dibawa ke Indonesia. Apalagi kalau kita juga menambahkan bahwa semua negara Skandinavia ini memiliki teknologi industri perminyakan, energi, perkapalan, dan perikanan yang sangat maju. Begitu banyak nilai tambah yang melekat pada perekonomian negara-negara itu.

Perlu dicatat bahwa Norwegia pada 1960-1970 belum dikenal sebagai negara  kaya. Ekonomi Norwegia masih di bawah negara-negara lain di Eropa. Baru pada 1980-an  nasib  Norwegia berubah. Penemuan  minyak pada akhir 1960-an mulai memberikan rezeki dan menjadikan negara ini kaya. Tapi Norwegia tidak terlena. Uang minyaknya dimasukkan ke apa yang disebut Government Pension  Fund  Global (GPFG) atau  apa yang kita kenal sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF).

Pada 2018, uang yang ada di SWF sekitar  US$ 1,04 triliun terbesar di dunia. Dana sebesar  US$ 1,04 triliun ini lebih dari dua kali produk domestik bruto Norwegia. Dana SWF inilah yang diinvestasikan ke berbagai  perusahaan  dan surat  berharga.  Norges Bank, yang mengelola SWF ini, bertindak sebagai perusahaan investasi sebagaimana layaknya SWF dinegara-negara  lain.

lnvestasi SWF Norwegia masuk ke ekuitas pasar modal sebanyak 67,6 persen, aset pendapatan tetap 29,7 persen, dan perusahaan griya tawang yang belum masuk pasar modal (unlisted)sebanyak 2,7 persen. Ada kebijakan pemerintah Norwegia merekomendasikan lnvestasi di perusahaan yang sudah masuk pasar modal. Dari semua lnvestasi itu, negara memperoleh keuntungan 13,7 persen, dengan  perincian dari ekuitas sebesar 19,4 persen, fixed lncome assets 3,3 persen, dan real estate 7,5 persen.

Sebagian besar investasi ditanamkan di Amerika Utara, sebanyak 41 persen, dan di Eropa, 36 persen. Asia Pasifik kebagian 20 persen, sedangkan yang lain mendapat 3 persen. Secara statistik bisa dilihat bahwa kepemilikan ekuitas ada di 1,4 persen  perusahaan besar  dunia atau 2,4 persen perusahaan Eropa. Kepada para  bankir  kita itu, secara  berseloroh  saya katakan  bahwa Norwegia adalah  pemilik 1,4 persen  ekuitas dari Fortune 500 Companies.

lnvestasi  itu  tersebar  di berbagai  perusahaan besar,  seperti Apple, Amazon, Microsoft, Alphabet, Royal Dutch Shell, Nestle, dan  Facebook. Buat negara sekecil Norwegia, partisi­pasi ekuitasnya  terbilang mengesankan. Sayang bahwa SWF yang gemuk ini kebanyakan hanya mengalir ke Amerika Utara dan Eropa. Asia hanya terpusat di Jepang, Korea Selatan, dan Australia. Mengapa Indonesia, yang kaya dan prospek  bisnis­ nya cemerlang,  tak mendapat bagian yang memadai dari dana gemuk SWF tersebut? Apakah tak ada investasi yang menjanjikan yang bisa dijual?

Harus diakui bahwa dana SWF Norwegia juga masuk ke Indonesia, baik berupa ekuitas maupun surat berharga, yang berkisar  pada angka US$ 4,7 miliar. Kita harus menelisik lebih jauh apakah ada dana  SWF yang masuk ke sektor real estate. Saya tak tahu  persis jumlah yang pasti, tapi bisa disimpulkan angkanya tak terlalu signifikan.

Seharusnya Indonesia bisa mendapat lebih banyak, tapi mengapa pasar dan perusahaan Indonesia  tidak aktraktif? Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya perlu menjelaskan bahwa investasi SWF Norwegia ini bukan tanpa kendala. Ada yang disebut exclusionary policy, pengecualian  yang dibuat parlemen Norwegia dalam menetapkan  panduan etis yang mendasarkannya pada produk dan perilaku. Pengecualian berdasarkan  produk, misalnya, larangan berinvestasi di industri rokok, senjata, dan batu bara. Sedangkan pengecualian berdasarkan perilaku adalah Jarangan investasi di perusahaan yang melanggar hak asasi manusia (childlabour) dan merusak lingkungan.

Pada akhir 2017, ada 133 perusabaan yang masuk daftar  larangan investasi. Kelompok lingkungan  hidup  Norwegia menuntut pemerintah menarik dana SWF dari bank-banklndonesia yang memberikan kredit kepada perusahaan perkebunan kelapa sawit karena melanggar ethical guidelines itu. Tidak jelas apa reaksi dari pemerintah  Norwegia terhadap tuntutan tersebut. Setahu saya, investasi tersebut masih dipertahankan. Dari bocoran  yang saya baca, perusahaan yang masuk pengecualian itu termasuk perusahaan-perusahaan besar yang terkenal di dunia.

Jadi yang bisa dikategorikan sebagai perusahaan yang melanggar panduan etis tersebut. Sekarang ini juga ada usul agar pengecualian itu ditambah terhadap perusahaan-perusahaan yang melakukan manipulasi   pajak,  termasuk penghindaran  pajak. Jangan  salah  sangka bahwa  dana  SWF yang gemuk  itu harus dipinang dan digotong ke  Indonesia. Kesan saya, kita kurang  melirik dana  SWF yang gemuk itu, padahal kita sangat membutuhkan masuknya investasi asing. Apakah kita tak punya perusahaan yang menjanjikan, yang prospeknya bagus di masa depan? Apakah  proyek  infrastruktur dan energi terbarukan yang sedang kita kembangkan tak layak jual?

Ketika tak lagi bisa bergantung pada minyak dan gas,kita harus membangun dan mengembangkan infrastruktur dan  industri  energi  terbarukan, industri yang ramah  lingkungan. Sayangnya,kita belum melihat ada ikhtiar serius untuk melakukan apa yang disebutjemput bola ini. Saya kira sudah waktunya pemerintah Indonesia dan dunia usaha bersinergi menjemput  bola, melakukan road show memasuki  pasar  modal Norwegia, merayu dana  gemuk SWF, dan membawa  mereka ke Indonesia yang menawan (tentu dengan catatan ada kepastian huktum dan stabilitas politik yang berkelanjutan). Indonesia tak jadi menarik kalau tak ada kepastian hukum dan stabilitas politik.

Oslo, 1 Januari 2019

 

 

 

 

Previous post
Pikat Investor dan Importir Norwegia, KBRI Oslo Gelar Seminar Bisnis
Next post
Todung Mulya Lubis: Lidah Skandinavia

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *